Doa Kristen Agar Belajar Menghargai Orang Lain

Para Pihak harus mengetahui, memahami, menghayati dan sepakat untuk menerapkan Kode Etik ini sebagai landasan moral, sikap dan etika dalam bertindak dan berperilaku, disusun untuk kepentingan bersama demi kemajuan MUF. Obesitas serta segalanya yang serba cepat dan serba banyak telah membuat para anak tunggal ini memiliki kepribadian yang agak berbeda dengan orang tua mereka. Dalam ranah inilah, pemerintah mengkhawatirkan akan tumbuh anak-anak “Malin Kundang”. Untuk mengantisipasi keadaan ke depan, undang-undang anti penelantaran orang tua pun dibuat. Hal tersebut bukan berarti anak harus mengikuti apa yang diminta oleh orang tuanya. Melainkan bagaimana seorang anak seharusnya memperlakukan orang tua mereka dengan baik.

Oleh karena itu diperlukan pertobatan, agar seseorang dapat menghargai orang lain. Setiap orang harus berani mengambil sikap yang tegas untuk bertobat dari perbuatan dosanya. Orang yang bertobat akan lebih mudah menghargai orang lain karena dia akan ditolong oleh Tuhan supaya mampu melakukannya. Menyadari bahwa jauh lebih mudah jika kita melakukan dengan melibatkan Tuhan. Kondisi ini akan membuat individu memiliki sifat iri hati, dengki dan tidak bisa menerima kelebihan orang lain. Konsekuensi jika melanggar kode etik digital kata Agustin, terutama jika memuat atau menyebarkan hoaks di dunia maya bisa dijerat dengan pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik .

Coba Anda amati pernyataan orang yang mungkin pernah kita dengar. Misalnya orang itu mengatakan, “Kita harus peduli dengan orang-orang miskin. Dana itu nanti bisa dipakai untuk membantu orang-orang miskin itu”. Melalui program ini, mahasiswa akan dikirim ke salah satu kampus di luar pulau domisilinya untuk mengikuti proses pembelajaran dengan tiga skema yang dapat dilipilih. Itulah serba-serbi terkait pelayanan prima mulai dari unsur-unsurnya hingga suggestions untuk melakukannya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pelayanan prima yang baik adalah pelayanan yang cepat.

Belajar untuk mengahrgai sesama orang

Agama selalu berpartisipasi dalam menciptakan dunia yang lebih baik, adil, dan damai. Agama secara historis dan teologis lahir dari kondisi yang dimana manusia hidup dalam dosa. Dalam konteks ini, agama mendorong transformasi sosial dari situasi konflik dan ketidakberdayaan menjadi situasi yang lebih baik, adil, damai, dan penuh dengan sukacita. Untuk dapat menjadi contoh bagi perdamaian dunia, agama tentu harus Kembali dengan mendengarkan pesan-pesan Tuhan. Hal ini dapat kita lakukan dengan membaca dan mempelajari kitab suci. Kalau pesan-pesan dala kitab suci sulit untuk dimengerti, berusahalah untuk menafsirkannya dengan mendengarkan hati nurani masing-masing.

Di meja makan, mulailah diskusi tentang bagaimana budaya atau agama sama dan berbeda dari Anda. Kita semua secara alami tertarik pada orang yang seperti kita. Kami merasa terhubung dan dipahami ketika kami menemukan orang lain yang mirip dengan kami, melakukan hal-hal dengan cara yang kami lakukan, atau telah mengalami sesuatu yang serupa dengan pengalaman kami. Meskipun ini adalah perilaku regular, namun dapat menyebabkan diskriminasi dan kurangnya belas kasih bagi mereka yang berbeda dari kita.

Sebagai mahasiswa, kita harus sadar bahwa dunia sangat luas dan sangat beragam juga individu yang ada di dalamnya. Tugas kita pun kedepannya ialah mempertahankan kedamaian yang saat ini sudah ada dan menghapuskan segala hal yang sifatnya diskriminatif yang dapat mengganggu perdamaian. Sebab jika kita sudah sadar akan hal tersebut, ini akan melahirkan sifat toleransi. Sifat toleransi inilah didapat dari pemahaman bahwa manusia yang hidup di dunia ini sangat beragam dan kita saling membutuhkan satu sama lain. Dengan sadarnya akan hal ini pun, kita bisa mengembangkan cara-cara lain, yaitu agar menjadi individu yang berakhlak mulia, generasi penerus yang berkarakter, dan pemuda yang menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsanya.

Sebagian orang merasa pantang untuk mengucapkan kata ini, karena banyak anggapan bahwa orang yang meminta maaf akan dianggap salah atau lemah. Namun demikian, kita sebagai manusia biasa pasti tak luput dari kesalahan. Mengucapkan kata “maaf” bukan berarti kalah, sebaliknya, maaf membuat kita belajar menghargai orang lain yang pada akhirnya akan membawa kedamaian pada diri kita. Bahkan, kadangkala “maaf” dapat membuat musuh-musuh kita malu, malu akan dirinya sendiri dan keangkuhan yang selalu ia pegang selama itu.